Uang Melahirkan untuk ku

UANG MELAHIRKAN

UNTUKKU

 

Heiii.. kita tidak tahu bagaimana ke hidup ke depan, mengalir saja, cari aman saja. Ya banyak orang berpendapat tidak ada yang tahu bagaimana hidup ke depan. Beberapa juga hanya mengalir saja mengikuti arah arus kebanyakan orang. Namun bagaimana hidup kita di depan nanti juga banyak bahkan sangat bergantung pada pilihan-pilihan yang kita buat saat ini, apakah tetap menjadi karyawan atau melangkah keluar menjadi pengusaha.

 

Terlalu melihat resiko yang besar menjadi pengusaha atau malas mengambil haluan yang baru dalam kehidupan bisa jadi alasan banyak yang tetap memilih jalan aman. Tetapi siapapun itu pada akhirnya akan berjalan pada hidupnya sendiri, entahkah itu ketika dia menyelesaikan pendidikannya atau ketika menikah atau memiliki anak maka setiap orang tersebut bertemu dengan kebutuhan-kebutuhan yang harus diamankan secara “keuangan”.

 

Saya sendiri merasakan perbedaan ketika 7 tahun 7 bulan menjadi pegawai tetap Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan ketika menjadi Chief Executive Officer (CEO) dari koorporasi perusahaan property yang saya bangun ketika berusia 26 (dua puluh enam) tahun dengan modal untuk proyek  400-an (empat ratus-an) rumah waktu itu adalah Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah).

 

Saya tidak mewarisi kekayaan orang tua karena kedua orang tua saya juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau mendapatkan uang dari posisi manajemen saya karena posisi saya selama menjadi pegawai Perusahaan Listrik Negara (PLN)  hanyalah staff biasa tetapi kenapa uang sebesar itu mampu berputar menjadi puluhan miliar ???

 

 

Di situlah yang saya RASAKAN, sekali lagi saya ucapkan yang saya RASAKAN dan saya LIHAT tentang UANG. Selama 7,7 tahun menjadi pegawai Perusahaan Listrik Negara (PLN) saya bekerja dan bekerja bahkan sering lembur sambal menunggu “pengumuman” sms banking di HP saya, bila sms kabar baik dengan cepat saya tersenyum, bila kabar baik itu belum kunjung datang sesuai waktu yang saya harapkan saya tetap tenang, tetapi saya sangat menunggunya bagaikan hamba yang menunggu sang Tuan dan hanya sekejab semua PERASAAN dan yang saya LIHAT tentang uang pun berubah.

 

Yang sebelumnya saya tahu uang adalah Tuan saya, saya menggerakkan segala otot dan otak saya supaya Sang Tuan datang dan saya tersenyum dan merasakan ketenangan. Saya tenang karena perasaan “bulan depan” datang lagi dan dalam sekejab kini saya berubah. Saya melihat uang adalah pekerja saya. Semakin banyak uang saya pegang, saya lepaskan untuk bekerja di proyek-proyek saya. Bahkan saya memposisikan terbalik, yaitu saya yang duduk dan uang yang datang dari penjualan-penjualan, investor dan Kredit perbankan. Ketika uang itu datang, saya lepaskan dan gerakkan kembali untuk “melahirkan” lagi.

 

Itulah pebisnis, itulah pengusaha yang sesungguhnya dalam melihat uang. Uang adalah pekerja kita dan dengan kemampuan pengusaha, uang itu melahirkan dan bekerja untuk hidupnya. Bukan sebaliknya..

Share:

Leave a Comment