Gerakkan 4 roda ini dan majukan bisnis kita (Bagian 1)

Ketika berusia 26 (dua puluh enam) tahun, saya mendirikan satu perusahaan. Perusahaan yang memang saya dirikan untuk bergerak di bidang properti karena saat itu saya masih pegawai tetap Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan juga marketing jual-beli-sewa properti di salah satu agen properti Jakarta Selatan. Lalu saya berusaha dan berusaha untuk menjadi pengembang properti, karena sejak awal memang untuk itulah harapan saya mendirikan perusahaan itu.

Saya memulai mencari tanah, negosiasi sambil tetap menjalankan profesi saya menjadi seorang broker properti. Akhirnya saya mendapatkan lahan dan mulai mengelolanya tanpa rekan bisnis lain selain suami saya.  Melewati berbagai hal-hal yang tidak saya duga di dunia bisnis pengembang properti, terlebih saat itu proyek saya banyak di Kabupaten Bekasi yang terkenal dengan djawara-djawara Bekasi, urusan perizinan proyek yang tidak saya sangka dan perjuangan dalam pembangunan proyek.

Sebagai pemain tunggal dan satu-satunya Direktur dalam perusahaan tersebut, banyak tantangan dan tekanan yang saya hadapi. Bahkan ada satu titik saya terbesit apakah saya berhenti saja dan kembali menjadi karyawan BUMN, hidup dalam zona nyaman daripada menghadapi tantangan-tantangan yang waktu itu menurut saya “sangat berat”. Hati saya terus bergejolak walaupun saya tetap melangkah menghadapi apa yang harus saya hadapi. Apa yang terjadi? Semua tantangan itu dapat saya lewati. Saya berhasil memenangkannya dan tetap beruntung.

Setelah genap 1 (satu) tahun mengundurkan diri sebagai pegawai Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan bisa fokus, saya belajar bahwa ada 4 hal yang harus diperhatikan bila terjadi kendala bisnis dan sebelum memulai bisnis, 4 hal ini di rencanakan keamanannya.

4 (empat) hal ini saya sebut dengan 4 (empat) roda bisnis. Kenapa saya sebutkan roda? Karena beberapa kali bisnis saya terjadi “sakit” saya melihat tidak semua bidang bermasalah, atau tidak semua “roda” sedang macet. Yang lainnya sehat-sehat saja namun hanya sebagian saja masalahnya.

Apakah 4 roda itu?

Pertama, adalah roda produksi.

Dalam dunia bisnis pengembang properti roda ini tersusun atas beberapa bagian, atau saya sebagai lulusan mekanik automotive katakan terdiri dari 4 (empat) spare part yang harus kita perhatikan. Kita perhatikan susunannya, penataannya, kondisinya dan pemeliharaannya.

Spare part tersebut adalah tentunya tanah lalu perizinan proyek, legalitas kepemilikan tanah atau secara awam kita sebut status kepemilikan tanah dan terakhir adalah pembangunan.

Bila Anda mungkin di bidang bisnis yang lain, anda dapat memahami roda produksi bisnis anda. Misal bila anda bisnis kuliner maka roda produksi tentu antara lain suply-suply bahan makanan Anda, resep makanan, hasil nyata resep makanan dan hal lain.

Kedua, adalah roda penjualan

Sebelum saya berbisnis pengembang properti, saya pernah berbisnis sop durian, menjual ayam penyet, kosmetik dll dan semuanya bangkrut. Waktu itu dalam kerajinan dan semangat yang bodoh saya bangkrut dalam bisnis A, saya tidak menyerah lalu buka bisnis B, bangkrut lagi saya buka bisnis C. sampai tidak ada yang berhasil saya merenung apa yang terjadi??

Roda inilah yang saya tidak pedulikan. Saya terlalu fokus ke produk. Ya, saya akui saya memberikan yang terbaik dengan produk, dengan ahli masak yang hebat, pegawai yang rajin dan bersemangat, lokasi penjualan yang terbaik tetapi tidak laku sehingga tidak ada uang masuk sementara produksi terus harus dilakukan karena bahan akan tidak bagus bila didiamkan. Apa yang terjadi? Pendapatan minus dan saya bangkrut.

Menyadari hal ini, saya pun mulai belajar apa itu marketing, sales dan segala hal terkait marketing. Dan sebelum memulai bisnis baru sebelumnya yang waktu itu saya tidak tau bisnis apa yang saya akan jalankan selanjutnya, saya memutuskan harus saya dahulu menjadi marketing.

Saya melamar pekerjaan sebagai marketing. Apakah itu sales yang menjual pinggiran mall, atau sales di dalam kantor saya lamar semuanya. Banyak panggilan wawancara kerja dan akhirnya yang pertama meloloskan saya adalah marketing properti di salah satu agen properti besar Jakarta Selatan. Saya pun menjadi sales yang serius mencari rumah-rumah yang mau dijual, menghubungi pemilik-pemilik rumah, mengiklankan online, menyebarkan brosur di persimpangan-persimpangan jalan hingga akhirnya saya mendirikan perusahaan pengembang properti, membebaskan lahan lalu roda ini yang sangat saya perhitungkan waktu itu. Apa yang terjadi?

Bulan pertama penjualan unit mencapai 100 (seratus) unit dan bulan kedua juga 100-an unit bahkan dengan percaya diri para agent-agent property menyatakan inilah produk terbaik di Bekasi karena terlalu larisnya jualan saya waktu itu.

Hey,

Apa yang mau saya sampaikan di sini?

Jangan terlalu fokus pada produk kita sampai-sampai kita tidak memperhatikan roda ini. Produksi itu atau produk itu berbicara uang keluar tetapi penjualan itu uang masuk. Dalam memanajemen keuangan bisnis tentu kita juga harus mengamankan uang masuk. Bila terus menerus di produk ya seperti saya sebelumnya, yakni mendapat kebangkrutan.

Apa yang menjadi kelemahan?

Saya bukan dari keturunan pebisnis, bahkan bisa saya sampaikan di garis keturunan silsilah keluarga saya, di sayalah putus garis menjadi karyawan. Dan orang tua saya, orang tua dari orang tua saya juga seperti saya Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang persis sama seperti saya yaitu orang-orang yang nyaman, duduk, bekerja santai dan gajian itu pasti serta tidak ada ketakutan kebangkrutan perusahaan karena semua miliki negara.

Dan, pendapat keluarga besar bahkan orang-orang di daerah saya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu adalah kesuksesan yang luar biasa sehingga dengan kebanggaannya, sulit untuk berubah ke zona yang tidak nyaman. Kenapa saya sampaikan begitu? Karena berbicara menjadi marketing adalah berbicara sudah berapa kali kita ditolak, sudah berapa kali bahkan kita dicemooh, kita tidak memikirkan masalah produksi tetapi bagaimana menjadi tangguh namun tetap ramah untuk meraih target penjualan.

Inilah perbedaan besar yang akan Anda rasakan bila anda berubah dari karyawan menjadi pengusaha!

Dalam menjalankan bisnis saya, sebagai Direktur Utama adakalanya saya mencari dan menanyakan untuk produk yang saya beli. Banyak saya lihat bila memang keturunan “penjual” maka dia segera datang untuk menyampaikan produknya. Bila pun tidak bisa datang, dia terus menanyakan kapan waktunya bisa ketemu. Tetapi yang masih merintis, yang benar-benar pemula dengan santainya kadang menjawab : ”saya di Depok dan anda di Bekasi, kita bertemu di tengah-tengah saja?”

Menurut Anda, apakah hal ini bisa closing? Bisa-bisa saja bila memang BRAND anda sudah wah dengan penawaran terbaik tetapi dalam posisi perintis, berjuanglah lebih dan beranilah terus maju.

Nah, saya sudah menyampaikan pengalaman saya sendiri di Gerakkan 4 roda ini, dan majukan bisnis kita (Bagian 1)

 Jangan lupa baca juga Gerakkan 4 roda ini, dan majukan bisnis kita (Bagian2).

Share:

Leave a Comment