Tentang Riska Martina

 

 

 

 

TENTANG RISKA MARTINA

 

Riska Martina atau tepatnya Riska Martina Sitepu  lahir di Tanjung Morawa, salah satu kecamatan di Provinsi Sumatera Utara tahun 1988. Sejak lahir, wanita berdarah batak karo ini menjalani hidupnya di Sumatera Utara sampai menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Mesin di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2006.

Lulus dari universitas tersebut pada Desember 2010 diangkat menjadi pegawai tetap perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tepatnya PT. Perusahaan Listrik Negara penempatan di PLN Kantor Pusat di Jalan Trunojoyo, Blok M – Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dan terakhir di PT. PLN Transmisi Jawa Bagian Barat (TJBB) di Gandul, Depok – Jawa Barat.

Idealisme yang kuat membuat Riska Martina terkadang tidak dapat mengikuti arus menjadi karyawan Perusahaan Listrik Negara tersebut dan 2 (dua) tahun sejak pengangkatan tetap menjadi Pegawai BUMN lalu membaca buku-buku orang-orang mencapai kesuksesan kekayaan menjadi pertanyaan sendiri bagi Riska yakni : ”mengapa ada orang-orang yang tidak memiliki apa-apa, memulai dari 0 (nol) tetapi mampu meraih kekayaan atau kebebasan finansial?” Dan melihat orang-orang tersebut antara lain Robert Kiyosaki dan orang-orang yang “melek finansial” tersebut semuanya adalah PENGUSAHA, mereka adalah PEBISNIS maka Riska Martina memiliki niat untuk berbisnis sampingan.

Namun apa yang terjadi, kenyamanan akan dunia kerja begitu nikmat mengikat dan Riska Martina pun "ogah" berbisnis sampai satu kali sekitar tahun 2014 Riska Martina pun harus bergesekan dengan idealismenya di dunia kerja PLN. Riska menikah dan bertemu dengan kebutuhan-kebutuhan berumah tangga dan akhirnya kembali mengingat 2 (dua) kata itu yakni "kebebasan finansial".

Triwulan ketiga tahun 2014, Riska Martina pun memberanikan diri berbisnis sampingan dengan membuka bisnis Sop Durian tetapi bangkrut, lalu berlanjut ke Ayam Penyet tetapi bangkrut lalu berjualan kosmetik juga bangkrut sampai beberapa bisnis lainnya hingga akhirnya Riska Martina mempelajari apa yang menjadi penyebab kebangkrutan itu.

Setelah belajar, Riska Martina pun mengambil langkah menjadi Sales & Marketing, beberapa lowongan Sales & Marketing dilamar dan Riska Martina memenuhi panggilan wawancara hingga akhirnya menjadi Sales & Marketing Properti di salah satu Agen Properti di Blok M, Kebayoran Baru – Jakarta Selatan pada tahun 2014.

Menjadi Sales & Marketing di bidang properti ini membuat Riska Martina mengenal “kulit” dari dunia properti, memiliki jaringan marketing properti, notaris, perbankan dan segala bidang usaha berkaitan dengan properti. Dari sinilah timbul keinginan untuk melangkah lebih jauh lagi dan memutuskan menjadi pengembang properti.

Keputusan itu tentu tidak main-main, pada Bulan Desember 2014 terbentuklah Akta pendirian perusahaan properti tersebut dan bermodal ilmu yang didapatkan dan pengetahuan-pengetahuan yang terus Riska Martina gali, Riska Martina yang pada saat itu masih berumur 26 (Dua puluh enam) tahun mantap mendirikan perusahaan tersebut dan mulai berburu lahan sambil berjualan properti.

Perburuan lahan tidak selalu berjalan mulus bahkan penuh tantangan maupun cemooh karena Riska Martina saat itu masih sangat muda dan seorang wanita. Banyak yang mengira dia datang sebagai makelar dan ditolak oleh beberapa pihak. Ketika Riska bertemu dengan pemilik lahan maka tidak jarang pemilik malah mengira Riska adalah Sales, bila bertemu dengan kontraktor maka kontraktor akan bertanya beberapa kali menyakinkan bahwa "benarkan Anda Ibu Riska?". Menemui beberapa perbankan, Riska pun dianggap mediator proyek sehingga tujuan-tujuannya untuk melakukan bisnis sering terkendala karena orang melihatnya sosoknya seorang wanita muda berusia 20-an tahun yang sangat langka ditemui Direktur Utama pengembang properti wanita usia tersebut.

Bahkan orang tua Riska Martina sendiri pun tidak mendukung usahanya dan ingin Riska Martina cukup hanya duduk diam menjadi karyawan Badan Usaha Milik Negara dan berkarir di situ.

Tetapi Riska Martina tetap fokus dan tetap melangkah hingga akhirnya mengembangkan kawasan hunian yang per titik lokasi bisa empat ratusan unit, dua ratusan unit hingga total bisa ribuan unit. Meningkatnya ekspansi proyek membuat Riska Martina harus memilih fokus menjadi pengusaha atau tetap menjadi pegawai BUMN. Kala itu, bisa saja Riska Martina mengerjakannya bersamaan tetapi FOKUS nya kepada KEBEBASAN FINANSIAL itu memberanikan langkahnya untuk mengundurkan diri sebagai Pegawai Badan Usaha Milik Negara dan sepenuhnya menjadi PENGUSAHA.

Riska Martina memutuskan mata rantai di keluarganya karena kakeknya adalah Pegawai Negeri Sipil, begitu juga orangtua kandungnya dan kebanggaan orangtua maupun keluarga besar lingkungan Riska Martina adalah bila anak mereka atau cucu atau keponakannya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Mencoba meyakinkan orang tua,

Tanpa modal warisan

Tanpa teladan bisnis dari orang tua

Tanpa pengalaman menjadi pemimpin resmi selama menjadi karyawan PLN

Riska Martina tahu bahwa kekuatan uang, pengetahuan dan jaringan bisnisnya rendah tetapi fokus untuk ekspansi proyek demi proyek pengembang properti dan tekad untuk tetap bisa bertmbuh, maju dan terus belajar “melek dan bebas finansial” membuat Riska Martina tetap maju dan kini telah memiliki berbagai proyek perumahan dengan kapasitas 200 unit hingga ribuan unit.

 

NILAI-NILAI YANG DITANAM 

1. KEJUJURAN

Yap, kejujuran bisa menjadi hal yang sangat sederhana bagi banyak orang tetapi bagi RM, kejujuran itu membuat bisnis tetap bertahan. Bisa saja kejujuran membuat kita diperdaya tetapi kejujuran membuat kita tetap mampu bertahan dan bertumbuh dalam bisnis.

2. CEKATAN & TERAMPIL

Tidak bisa dipungkiri bahwa dunia bisnis adalah dunia kompetisi. Kita berkompetisi maka kita harus AHLI, CEKATAN dan TERAMPIL. Bukan berarti saat ini RM sudah AHLI, CEKATAN dan TERAMPIL tetapi ada peningkatan, ada penambahan secara wawasan, pengetahuan sehingga sebagai CEO mampu memutuskan pelaksanaan-pelaksanaan maupun arah demi arah tujuan bisnis yang berkualitas sambil tidak pernah berhenti belajar dan belajar baik dari orang lain maupun dari kegagalan/kesalahan.

3. IMPIAN YANG BESAR

Impian adalah bahan bakar, impian adalah tenaga bagi Riska Martina untuk terus berpacu dan fokus. Walaupun impian itu bisa saja masih bayangan tetapi bayangan itu memiliki kekuatan untuk terus mendorong ketika kita bosan, terus menyemangati ketika kita jatuh, terus membuat kita maju hingga kita mencapai impian dan membuatnya menjadi nyata.

 

MISI DALAM BISNIS

1. Sebagai seorang pengembang properti, berharap untuk terus maju, terus naik dan unggul.

2. Sebagai pebisnis mampu menjadi pebisnis handal.

 

MISI DALAM SOSIAL

Ada satu perubahan yang di lihat Riska Martina dalam berbisnis yaitu pengusaha memberi banyak lapangan pekerjaan dengan demikian pengusaha mengurangi angka pengangguran dan mensejahterakan lebih banyak orang.

Lebih banyak bertambah pengusaha maka bertambah lapangan pekerjaan, berkurang angka pengangguran dan semakin banyak orang disejahterakan.

Oleh karena itu, Riska Martina berkomitmen melahirkan pebisnis-pebisnis baru, mengubah mental atau pola pikir karyawan menjadi PENGUSAHA. Mengubah pola pikir dalam melihat uang yakni posisi uang dan posisi kita.

Kedua, dengan terus belajar dan berusaha dalam peningkatan bisnis, Riska Martina juga berkomitmen untuk memberi bantuan kepada anak-anak yang kurang mampu sehingga tidak bisa mendapatkan Pendidikan yang layak, berbagi dengan orang-orang yang kurang mampu dan hal sejenis lainnya dalam rangka kepedulian terhadap sesama.

 

 

 

 

 

Share: